Ragam Desain Penelitian Menurut Tujuannya

DESAIN PENELITIAN

Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan riset adalah penerapan metoda ilmiah, yang antara lain perlunya menggunakan metoda penelitian yang telah baku.

Pengertian tentang metoda dalam penelitian, sebenarnya lebih terpusat pada cara yang akan dipilih untuk mengumpulkan data yang diperlukan serta analisis yang akan dilakukan. Tentang hal ini, hal pertama yang perlu dicermati adalah penetapan desain atau rancangan penelitian.

RAGAM DESAIN PENELITIAN MENURUT TUJUANNYA

Ditinjau dari tujuan penelitian, desain penelitian biasa dibedakan dalam tiga macam riset, yaitu riset eksploratif, deskriptif dan inferensial. Tetapi dalam perkembangannya kemudian muncul dua macam riset yang lain yaitu riset evaluatif dan verivikatif.

Riset Eksploratif

Sesuai dengan arti katanya, merupakan suatu kegiatan pemelitian yang bertujuan untuk menggali informasi atau data sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala atau obyek yang diteliti.

Data yang dikumpulkan atau diperlukan dalam penelitian ini umumnya bersifat longitudinal. Tetapi tidak jarang penelitian eksploratif juga sebagai riset sekali tembak atau cross section.

Sesuai dengan tujuannya, riset eksploratif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Lebih banyak menggunakan data sekunder, dibanding data primer. Bahkan seringkali terkesan sebagai studi pustaka.
  2. Karena lebih banyak menggunakan data sekunder seringkali keterandalannya diragukan.
  3. Draft laporan penelitian perlu dipublikasikan terlebih dahulu untuk memperoleah kritik baik interrnal maupun eksternal.

Riset Deskriptif

Riset deskriptif merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menjelaskan, merinci atau membuat deskripsi terhadap suatu gejala atau obyek yang diteliti dengan menggunakan data yang diperoleh dengan seklali tembak atau cross sectional.

Dalam arti sempit, deskriptif dapat diartikan sebagai penelitian yang hanya menunjukkan gambaran, uraian, atau rincian tentang gejala yang diteliti. Tetapi dalam arti luas lebih jauh menceritakan hubungan atau keterlibatan antar gejala, serta seberapa jauh terdapat kesepakatan atas hasil yang disampaikan. Dengan demikian, dapat dirumuskan tentang kecenderungan-kecenderungan, atau implikasi kegiatan yang perlu dilakukan.

Riset Inferensial

Jika riset deskriptif hanya berusaha membuat rincian atau deskripsi untuk menjelaskan suatu gejala yang diteliti, riset inferensial lebih bersifat untuk pengambilan keputusan atau menguji hipotesis terutama yang dilakukan melaui riset eksperimental.

Riset Komparatif, Riset Korelasional, Dan Riset Kausal

Riset komparatif adalah penelitian yang bertujuan untuk membandingkan gejala atau keadaan yang dapat ditemui pada objek penelitian yang berbeda, untuk kemudian dilakukan analisis tentang seberapa jauh terdapat perbedaan yang signifikan antara gejala atau variabel penelitian yang diteliti.

Riset korelasional merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merinci dan menjelaskan seberapa jauh timbal balik antar variabel yang diteliti, sedangkan riset kausal dilakukan bertujuan untuk menjelaskan gejala sebab akibat yang bersifat searah.

Meskipun bertujuan membandingkan, melihat hubungan timbal balik maupun mengkaji terjadinya sebab akibat, ketiga penelitian tersebut dapat didesain sekadar sebagai penelitian deskriptif ataupun penelitian inferensial.

 

Riset Evaluatif

Merupakan riset yang dilakukan untuk melakukan evaluasi terhadap suatu kegiatan yang belum, sedang maupun telah dilaksanakan. Dalam pelaksanaanya riset evaluatif dapat bersifat deskriptif maupun inferensial. Meskipun demikian sebaiknya didesain sebagai riset inferensial yang dilengkapi hipotesis.

Riset Verifikatif

Adalah suatu kegiatan penelitian ulangan yang ditujukan untuk mengkaji ulang atau mengkaji kembali hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan pada lokasi yang sama atau pada lokasi yang berbeda. Karena itu, kaji ulang yang dimaksud di sini dapat berdimensi waktu dan atau berdimensi ruang.

Dalam banyak kasus, kegiatan pengulangan terhadap penelitian yang pernah dilakukan dianggap sebagai penjiplakan atau plagiat, untuk itu pada penelitian ini diperlukan kejujuran peneliti tewntang upaya peneloitian yang akan dilakukan.

RAGAM DESAIN PENELITIAN MENURUT DATA YANG AKAN DIKUMPULKAN

Desain penelitian dapat  dibedakan dalam : riset sekali tembak (one Shoot), riset longitudinal (time series), dan cross sectional research yang merupakan gabungan dari keduanya.

Riset Longitudinal

Biasanya diterapkan pada riset historis yaitu suatu kegiatan penelitian melalui pengamatan atau pengumpulan data selama rentang waktu tertentu terhadap obyek yang sama dengan tujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi atau yang ditunjukkan oleh obyek penelitian dari waktu ke waktu.

Biasanya dilakukan terhadap studi tentang perubahan perilaku, karena akan diperoleh gambarab yang jelas tentang karakteristik perilaku individu ataui kelompok masyarakat serta faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap terjadinya perubahan-perubahan tersebut.

 

Riset Sekali Tembak (One Shoot)

Merupakan penelitian yang memanfaatkan data yang dikumpulkan pada waktu tertentu saja, dengan tujuan untuk mengetahui atau menjelaskan keadaan suatu obyek yang terjadi pada saat dilakukan penelitian.

Sedang riset Cross Section sebenarnya samadengan penelitian sekali tembak, bedanya adalah pengumpulan datanya dilakukan beberapa tahap terhadap obyek atau sub populasi yang berbeda.

RAGAM PENELITIAN MENURUT SIFAT DATANYA

Bersasarkan sifatnya dibedakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Secara sederhana dibedakan menurut jenis data dan analisis data yang akan dilakukan, yaitu :

  1. Penelitian kuantitatif memusatkan pada pengumpulan data kuantitatif yang berupa angka-angka untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan alat-alat analisis kuantitatif yang berupa analisis statistika maupun dengan perhitungan matematika.
  2. Penelitian kualitatif, memusatkan perhatian pada pengumpulan data kualitatif yang berupa informasi kualitatif yang disampaikan melalui lisan maupun tertulis. Karena data yang dikumpulkan bersifat kualitatif, maka analisis datanya juga dengan teknik kualitatif. Meskipun demikian dapat pula dilakukan analisis kuantitaif dengan terlebih dahulu melakukan kuantifikasi terhadap data kualitatif melalui pemberian nilai skor baik dengan skala nominal maupun ordinal.

Dalam praktek seringkali terdapat kesalahkaprahan dalam penilaian terhadap kedua jenis penelitian tersebut yaitu :

  1. Penelitian kuantitatif seringkali dinilai lebih baik karena harus memanfaatkan analisis kuantitatif yang sesuai dengan perkembangan teknologi komputasi, cenderung semakin rumit dan harus menggunakan bantuan komputer untuk mengabalisisnya.
  2. Penelitian kualitatif seringkali dinyatakan sebagai pengganti penelitian kuantitatif khususnya bagi peneliti sosial yang ketakutan atau tidak dapat menggunakan analisis kuantitatif.

Pendapat seperti itu tentu saja tidak dibenarkan sebab masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Bahkan seringkali yang terbaik adalah jika seseorang mampu menggabungkan kedua jenis penelitian tersebut secara simultan.

Riset kuantitatif seringkali dipilih karena keunggulanya dalam arti mampu memberikan penilaian yang lebih obyektif dan dapat digunakan untuk melakukan prediksi yang lebih baik dengan menggunakan statistika atau metematika. Sebaliknya, penelitian kualitatif lebih banyak dipilih karena memiliki keunggulan dalam menjelaskan atau memberikan deskripsi tentang banyak hal seperti sifat-sifat hubungan antar manusia, perubahan perilaku manusia terhadap suatu obyek dan lingkungannya dan lain-lain.

Tentang hal ini Sutopo (1988) mencatat adanya beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang merupakan keunggulannya dibanding penelitian kuantitatif yang perlu dipahami oleh para pengguna yaitu :

  1. Riset kualitatif lebih dapat diandalkan dalam arti datanya dapat dipercaya karena memilki natural setting dan hanya menggunakan data primer dari pihak-pihak yang bersangkutan langsung atau setidaknya mengetahui. Riset kualitatif lebih mengutamakan apa yang benar-benar terjadi dari sekedar laporan. Riset kualitatif lebih mengutamakan keyakinan dalam arti peristiwa yang diteliti adalah subyek masa kini dan bukan masa lampau.
  2. Riset kualitatif  terutama diarahkan untuk memberikan deskripsi melalui informasi yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata.
  3. Lebih mementingkan proses dari pada hasil, lebih mementingkan mengapa, bagaimana, dan kapan daripada sekadar apa atau berapa yang terjadi.
  4. Cenderung menggunakan analisis induktif sehingga teori yang dikembangkan berangkat dari lapangan.
  5. Lebih mengutamakan participant perspective sehingga semua instrumen dan ukuran yang digunakan, dikembangkan dari lapangan.

Penelitian kuantitatif dilakukan jika kita telah memiliki informasi/asumsi-asumsi tertentu dan data yang diperlukan dapat diperoleh dalam bentuk kuantitatif atau kualitatif yang dapat dikuantifisir. Penelitian kuantitatif lebih tepat digunakan untuk penelitian inferensial dengan menggunakan perameter yang bersifat emik (dirumuskan berdasarkan teori/konsep/pengalaman empirik).

Penelitian kualitatif sebenarnya dilakukan untuk mengeksplorasi informasi yang diperlukan, yang sulit dituangkan dalam bentuk data kuantitatif.dalam penelitian kualitatif perlu dihindari perumusan atau penggunaan asumsi-asumsi sebelum penelitian dilakukan karena asumsi yang dirumuskan berdasarkan teori atau pengalaman empiris tidak selalu benar untuk penelitian yang akan dilakukan. Karena itu, penelitian kualitatif lebih tepat digunakan untuk penelitian deskriptif dengan meanggunakan parameater etik (berdasar fakta setempat).

Lebih jauh tentang penelitian kualitatif, dapat dikemukakan beberapa catatan sebagai berikut :

  1. Pengumpulan data

Pengumpulan data lebih banyak dilakukan melalui wawancara secara kelompok, karena itu peran pengumpul data lebih bersifat sebagai pemandu wawancara dalam suatu pertemuan yang bersifat partisipatif.

Sehubungan dengan hal itu, sebelum melakukan kegiatan pengumpulan data, calon pengumpul data harus menyiapkan diri untuk benar-benar memiliki kemampuan sebagai pewawancara. Serta harus mengetahui karakteristik sosial budaya masyarakat diwilayah penelitian agar benar-benar dapat diterima oleh kelompok.

  1. Pemilihan responden

Penetapan sampel lebih sering dilakukan secara purposive sehingga responden yang terpilih adalah kelompok atau individu yang diyakini dapat memberikan informasi yang diperlukan. Untuk memperoleh data yang handal perlu diusahakan kelompok-kelompok responden yang relatif homogen terutama menyangkut status sosialnya.

Jika hal tersebut sulit diupayakan, maka dalam pengumpulan data perlu diperhatikan keragaman atau perbedaan karakteristik individu dalam setiap kelompok.

  1. Teknik wawancara

Dalam wawancara harus dihindari pertanyaan-pertanyaan yang cenderung mengarahkan jawaban responden serta yang cenderung memperoleh jawaban klise. Untuk memperoleh data yang efektif, kegiatan wawancara sebaiknya dibatasi waktunya yaitu maksimal 2 jam.

  1. Instrumen penelitian

Dalam penelitian kualitatif disarankan untuk tidak menggunakan daftar pertanyaan tetapi cukup dengan panduan wawancara. Lebih lanjut, perlu dihindari pertanyaan-pertanyaan tertutup dan usahakan pertanyaan terbuka agar responden lebih bebas dalam mengemukakan informasinya bahkan informasi penting yang sebelumnya belum terpikirkan oleh pengumpul data. Perhatikan kata-kata kunci yang sesuai dengan tujuan penelitian dan hindari untuk cukup puas dengan jawaban klise.

  1. Data yang dikumpulkan

Selain memusatkan perhatian pada pengumpulan data kualitatif, data yang dikumpulkan tidak cukup dari jawaban verbal tetapi juga data yang disampaikan secara tidak langsung melalui bahasa tubuh.

Pengumpulan data jangan terlalu cepat percaya pada jawaban tetapi perlu melakukan recheck atas semua informasiyang ditangkap terutama untuk menguji konsistensi jawaban responden.

  1. Analisis hasil penelitian

Analisis data dalam penelitian kualitatif sudah dapat dilakukan sejak perumusan panduan diskusi/wawancara. Selain itu, draft hasil laporan perlu dikonfirmasikan kembali dengan individu yang terlibat dalam penelitian.

RAGAM RANCANGAN PENELITIAN MENURUT METODANYA

Dalam banyak kepustakaan dijumpai adanya tiga macam metode dasar  yaitu historis, deskriptif dan eksperimental.

Riset Historis

Adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk membuat suatu gambaran tentang masa lalu dan perkembangannya secara obyektif dan sistematis. Hampir menyerupai studi pustaka karena lebih banyak mengandalkan data sekunder yang lebih bersifat longitudinal sedangkan pengumpulan data primer lebih banyak diarahkan untuk melakukan verifikasi dan evaluasi data sebelumnya. Karena itu keterhandalan riset historis sangat tergantung pada kemampuan peneliti untuk mensintesis bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Riset Deskriptif

Berbeda dengan riset historis, penelitian deskriptif pada umumnya menggunakan data sekali tembak atau cross section. Ditinjau dari tujuannya, penelitian deskriptif dibedakan dalam :

  1. Deskriptif  korelasional, untuk melihat signifikansi hubungan antar variabel.
  2. Deskriptif Kausal, untuk melihat signifikansi sebab akibat antar variabel.
  3. Deskriptif komparatif, untuk melihat signifikansi perbedaan antar obyek atau variabel yang dicermati.

Dalam prakteknya, penelitian deskriptif dapat dilakukan menggunakan dua teknik yaitu :

  1. Teknik Survei, yang melibatkan obyek penelitian dengan populasi yang relatif besar dengan memanfaatkan data sekali tembak.
  2. Teknik Kasus, yang bertujuan melakukan kajian yang mendalam terhadap obyek yang terbatas.

Riset Eksperimental

Merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menguji kesignifikansian perlakuan-perlakuan tertentu dibanding kontrolnya. Dalam hubungan ini rancangan penelitian dapat dibuat untuk membandingkan antara with and without treatment atau before and after treatment.

Dalam kenyataannya, penelitian eksperimental dibedakan dalam dua hal, yaitu :

  1. Eksperimen murni, yang semua perlakuannya dapat benar-bener dikontrol dalam arti antar treatmen dapat benar-benar diisolir.
  2. Eksperimen semu, yaitu penelitian eksperimen yang tidak mampu mengontrol atau mengisolasi hubungan yang terjadi antar treatmen sehingga terjadi perembesan. Penelitian ini terjadi manakala obyek penelitian melibatkan manusia yang dalam banyak kasus sangat sulit dikontrol.

Berkaitan dengan riset eksperimental ini dikenal adanya beragam desain penelitian, seperti :

  1. Rancangan Blok Acak sederhana
  2. Rancangan Blok Acak Lengkap
  3. 3. Latin Square
  4. Sarang Lebah
  5. dll

Grounded Research

Merupakan penelitian dimana landasan teorinya dirumuskan berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada obyek yang akan diteliti.

Operation Research

Adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh rekomendasi bagi upaya optimalisasi sumber daya yang terbatas. Dalam riset operasi dikenal beberapa metode, yaitu :

  1. Metoda progamasi linear, yang bertujuan untuk mencari alternatif optimalisasi penggunaan sumberdaya yang terbatas.
  2. Metode transportasi, yang digunakan untuk mengoptimalkan distribusi dari sumber input ke lokasi pengguna.
  3. dll

 

Action Research

Riset aksi atau kaji tindak merupakan suatu kegiatan penelitian yang diawali dengan melakukan studi dasar, untuk kemudian merumuskan perlakuan yang langsung diikuti dengan tindakan nyata dan setelah dievaluasi dan dikaji ulang dikembangkan perlakuan-perlakuan baru.

Karena itu, riset aksi merupakan kegiatan yang berkesinambungan, yang ditandai dengan dilakukannya perlakuan dan evaluasi yang terus menerus.

Participatory Research

Riset partisipatif sering disalah srtikan sebagai kegiatan penelitian yang mengumpulkan datanya dilakukan oleh peneliti, dengan terlebih dahulu hidup dan tinggal bersama dengan masyarakat yang dijadikan obyek penelitian. Riset psrtisipatif sebenarnya adalah kegiatan penelitian yang melibatkan obyek penelitian sejak perencanaan penelitian, pengumpulan data, analisis, dan perumusan kesimpulan maupun rekomendasinya. Penelitian ini merupakan koreksi terhadap penelitian yang hanya dilakukan oleh pihak luar dan menempatkan masyarakat hanya sebagai obyek penelitian.

Participatory Action Research

Riset aksi yang partisipatif atau PAR, merupakan gabungan antara riset aksi dan riset partisipatif, dengan proses sebagai berikut :

  1. Studi dasar, dilaksanakan secara partisipatif dalam bentuk penilaian masyarakat secara partisipatif.
  2. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dalam arti dikelola dan dikerjakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh peneliti.
  3. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kegiatan juga dilaksanakan secara patisipatif dengan menerapkan teknik penilaian, monitoring, dan evaluasi yang partisipatif.

Oleh sebab itu, salah satu ciri pokok yang menjadi keunggulan PAR dibanding penelitian lain adalah karena PAR tersebut dilaksanakan sebagai proses pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan belajar yang berkelanjutan.

Sumber: http://h0404055.wordpress.com/2010/04/03/ragam-desain-penelitian-menurut-tujuannya/

Dipublikasi di File Kuliah | Meninggalkan komentar

Koefisien Determinasi (R2) & UJI F

Koefisien Determinasi (R2)

Pengertian R2

R2 adalah perbandingan antara variasi Y yang dijelaskan oleh x1 dan x2 secara bersama-sama dibanding dengan variasi total Y. Jika selain x1  dan x2 semua variabel di luar model yang diwadahi dalam E dimasukkan ke dalam model, maka nilai R2 akan  bernilai 1. Ini berarti seluruh variasi Y dapat dijelaskan oleh variabel penjelas yang dimasukkan ke dalam model. Contoh Jika variabel dalam model hanya menjelaskan 0,4 maka berarti sebesar 0,6 ditentukan oleh variabel di luar model, nilai diperoleh sebesar R2 = 0,4.

Tidak ada ukuran yang pasti berapa besarnya  R2 untuk mengatakan bahwa suatu pilihan variabel sudah tepat. Jika R2 semakin besar atau mendekati 1, maka model makin tepat. Untuk data survai yang berarti bersifat cross section data yang diperoleh dari banyak responden pada waktu yang sama, maka nilai R2 = 0,2 atau 0,3 sudah cukup baik.

Semakin besar n (ukuran sampel) maka nilai R2 cenderung makin kecil. Sebaliknya dalam data runtun waktu (time series) dimana peneliti mengamati hubungan dari beberapa variabel pada satu unit analisis (perusahaan atau negara) pada beberapa tahun maka R2 akan cenderunng besar. Hal ini disebabkan variasi data yang relatif kecil pada data runtun waktu yang terdiri dari satu unit analisis saja.

Arti Atau Makna R2

Contoh jika nilai R2 = 0,4, menunjukkan pemilihan variabel x1 dan x2 dalam  (cross section data) menjelaskan variasi kinerja sebesar 40 persen,  sisanya 80 persen ditentukan oleh variabel-variabel lain di luar model. Dua variabel penjelas yang dipilih oleh peneliti sudah dapat menjelaskan variasi variabel Y pada sampel yang besar. Keputusan ini dapat diterima jika uji F menunjukkan nilai yang besar atau signifikan. Jadi keputusan untuk menerima model sebagai baik atau tepat harus dilihat bersama antara besarnya nilai F dan R2.

Formula R2 sendiri adapat dilihat pada Gujarati, 1995: 76

UJI F

Selain R2 ketepatan model hendaknya diuji dengan uji F. Hipotesis dalam uji F adalah sebagai berikut:

Hipotesis mengenai ketepatan model:

Ho : b1 = b2 = 0      (Pengambilan variabel X1 dan X2 tidak cukup tepat dalam menjelaskan variasi Y, ini berarti pengaruh variabel di luar model terhadap Y, lebih kuat dibanding dengan variabel yang sudah dipilih).

Ha : b1 ≠ b2 ≠ 0      (Pengambilan variabel X1 dan X2 sudah cukup tepat karena mampu menjelaskan variasi Y, dibanding dengan pengaruh variabel di luar model atau errror terhadap Y).

Untuk menguji kebenaran hipotesis alternatif, yaitu bahwa model pilihan peneliti sudah tepat, maka dilakukan uji F dengan prosedur yan dapat dilihat pada buku ekonometrika yang disGujarati, 1995: 249

dimana k = 3,  karena contoh ini menggunakan 3 parameter

Kriteria Uji F

Jika hasil F hitung di atas sudah lebih besar dari 4, maka model yang memasukkan 2 variabel di atas sudah tepat (fit). Jika R kuadrat merupakan perbandingan antara variasi Y (variasi total) yang bisa dijelaskan oleh variabel penjelas, maka uji F adalah perbandingan antara variasi Y yang dapat dijelaskan oleh variabel di dalam model dibanding variasi yang dijelaskan oleh variabel di luar model. R2 dan uji F bersifat sejalan/saling menggantikan. Karena R2 tidak ada ujinya, maka keberartian R2 diterima jika nilai F tinggi diatas 4.

Karena nilai F hitung > 4, yaitu sebesar 38,5 maka model cukup baik, dalam arti pemilihan kedua variabel penjelas sudah tepat.

Sumber ; eprints.ums.ac.id/911/4/MODUL_4_ketapatan_model.doc

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

CARA CEPAT MENYUSUN SKRIPSI DAN TIPS-TIPS SKRIPSI

Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan

Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buatplanning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?

Tahap-tahap Persiapan

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

Beberapa Kesalahan Pemula

Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.

Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akanperform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

TIPS-TIPS Mencari Judul Skripsi

Ada beberapa hal yang harus dipahami oleh mahasiswa pada awal proses penulisan skripsi, terutama pada saat hunting judul:

  1. Abstraksi Penelitian. Baca abstraksi penelitian tersebut. Pahami betul-betul maksud dari abstraksi tersebut. Abstraksi adalah ringkasan dari suatu penelitian. Perhatikan pula kata kuncinya.
  2. Penelitian Terdahulu. Biasanya terdapat setelah landasan pustaka. Penelitian pustaka jangan terlalu jadul. Maksimal lima tahun ‘lah. Jadi masih relevan jika akan direplikasi.
  3. Kerangka Pemikiran. Biasanya setelah penelitian terdahulu ada kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran yang bagus biasanya memiliki gambaran / ilustrasi yang jelas. Tapi bukan berarti yang nggak ada gambarnya selalu jelek.
  4. Keterbatasan Penelitian / Saran. Ini terletak di bagian akhir penelitian. Semua penelitian yang bagus pasti (saya ulangi: Pasti) memiliki saran untuk penelitian di masa mendatang. Kalau ada saran untuk penelitian di masa mendatang, gunakan saja saran itu sebagai entry point dalam mengerjakan skripsi.

Selamat ber-skripsi ria!

Sumber : http://budyah.wordpress.com/2009/05/03/tips-mencari-judul-skripsi/

http://nofieiman.com/2006/09/cara-cepat-menyusun-skripsi/

 

 

Dipublikasi di File Kuliah | 2 Komentar

TEORI ANALISIS REGRESI LINIER “MENGENAL ANALISIS REGRESI”

2.1 Pengertian

Untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung dan memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas. Gujarati (2006) mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variabel) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory). Variabel pertama disebut juga sebagai variabel tergantung dan variabel kedua disebut juga sebagai variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi linear berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan dikenakan kepada variabel tergantung.

2.2 Tujuan

Tujuan menggunakan analisis regresi ialah

  • Membuat estimasi rata-rata dan nilai variabel tergantung dengan didasarkan pada nilai variabel bebas.
  • Menguji hipotesis karakteristik dependensi
  • Untuk meramalkan nilai rata-rata variabel bebas dengan didasarkan pada nilai variabel bebas diluar jangkaun sample.

2.3 Asumsi

Penggunaan regresi linear sederhana didasarkan pada asumsi diantaranya sbb:

  • Model regresi harus linier dalam parameter
  • Variabel bebas tidak berkorelasi dengan disturbance term (Error) .
  • Nilai disturbance term sebesar 0 atau dengan simbol  sebagai berikut: (E (U / X) = 0
  • Varian untuk masing-masing error term (kesalahan) konstan
  • Tidak terjadi otokorelasi
  • Model regresi dispesifikasi secara benar. Tidak terdapat bias spesifikasi dalam model yang digunakan dalam analisis empiris.
  • Jika variabel bebas lebih dari satu, maka antara variabel bebas (explanatory) tidak ada hubungan linier yang nyata

2.4 Persyaratan Penggunaan Model Regresi

Model kelayakan  regresi linear didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

a.       Model regresi dikatakan layak  jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0.05

b.      Predictor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation

c.       Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji T. Koefesien regresi signifikan jika T hitung > T table (nilai kritis)

d.      Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari satu.

e.       Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin dan Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3

f.        Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai r2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai r2 mempunyai karakteristik diantaranya: 1) selalu positif, 2) Nilai r2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2 sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika r2sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara X dan Y.

g.       Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y)

h.       Data harus berdistribusi normal

i.         Data berskala interval atau rasio

j.        Kedua variabel bersifat dependen, artinya satu variabel merupakan variabel bebas (disebut juga sebagai variabel predictor) sedang variabel lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai variabel response)

2.5 Linieritas

Ada dua macam linieritas dalam analisis regresi, yaitu linieritas dalam variabel dan linieritas dalam parameter. Yang pertama, linier dalam variabel merupakan nilai rata-rata kondisional variabel tergantung yang merupakan fungsi linier dari variabel (variabel) bebas. Sedang yang kedua, linier dalam parameter  merupakan fungsi linier parameter dan dapat tidak linier dalam variabel.

2.6 Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dapat didasarkan dengan menggunakan dua hal, yaitu: tingkat signifikansi atau probabilitas (α) dan tingkat kepercayaan atau confidence interval. Didasarkan tingkat signifikansi pada umumnya orang menggunakan 0,05. Kisaran tingkat signifikansi mulai dari 0,01 sampai dengan 0,1. Yang dimaksud dengan tingkat signifikansi adalah probabilitas melakukan kesalahan tipe I, yaitu kesalahan menolak hipotesis ketika hipotesis tersebut benar. Tingkat kepercayaan pada umumnya ialah sebesar 95%, yang dimaksud dengan tingkat kepercayaan ialah tingkat dimana sebesar 95% nilai sample akan mewakili nilai populasi dimana sample berasal. Dalam melakukan uji hipotesis terdapat dua hipotesis, yaitu:

  • H0 (hipotessis nol)  dan H1 (hipotesis alternatif)

Contoh uji hipotesis misalnya rata-rata produktivitas pegawai sama dengan 10 (μ x= 10), maka bunyi hipotesisnya ialah:

  • H0: Rata-rata produktivitas pegawai sama dengan 10
  • H1: Rata-rata produktivitas pegawai tidak sama dengan 10

Hipotesis statistiknya:

  • H0: μ x= 10
  • H1: μ x > 10 Untuk uji satu sisi (one tailed) atau
  • H1: μ x < 10
  • H1: μ x ≠ 10 Untuk uji dua sisi (two tailed)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam uji hipotesis ialah;

  • Untuk pengujian hipotesis kita menggunakan data sample.
  • Dalam pengujian akan menghasilkan dua kemungkinan, yaitu pengujian signifikan secara statistik jika kita menolak H0 dan pengujian tidak signifikan secara statistik jika kita menerima H0.
  • Jika kita menggunakan nilai t, maka jika nilai t yang semakin besar atau menjauhi 0, kita akan cenderung menolak H0; sebaliknya jika nila t semakin kecil atau mendekati 0  kita akan cenderung menerima H0.

2.7 Karakteristik Model yang Baik

Model dikatakan baik menurut Gujarati (2006), jika memenuhi beberapa kriteria seperti di bawah ini:

  • Parsimoni: Suatu model tidak akan pernah dapat secara sempurna menangkap realitas; akibatnya kita akan melakukan sedikit abstraksi ataupun penyederhanaan dalam pembuatan model.
  • Mempunyai Identifikasi Tinggi: Artinya dengan data yang ada, parameter-parameter yang diestimasi harus mempunyai nilai-nilai yang unik atau dengan kata lain, hanya akan ada satu parameter saja.
  • Keselarasan (Goodness of Fit): Tujuan analisis regresi ialah menerangkan sebanyak mungkin variasi dalam variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas dalam model. Oleh karena itu, suatu model dikatakan baik jika eksplanasi diukur dengan menggunakan nilai adjusted r2 yang setinggi mungkin.
  • Konsitensi Dalam Teori: Model sebaiknya segaris dengan teori. Pengukuran tanpa teori akan dapat menyesatkan hasilnya.
  • Kekuatan Prediksi: Validitas suatu model berbanding lurus dengan kemampuan prediksi model tersebut. Oleh karena itu, pilihlah suatu model yang prediksi teoritisnya berasal dari pengalaman empiris.

2.8 Ringkasan

Analisis regresi berbeda dengan analisis korelasi. Jika analisis korelasi digunakan untuk melihat hubungan dua variable; maka analisis regresi digunakan untuk melihat pengaruh variable bebas terhadap variable tergantung serta memprediksi nilai variable tergantung dengan menggunakan variable bebas. Dalam analisis regresi variable bebas berfungsi untuk menerangkan (explanatory) sedang variable tergantung berfungsi sebagai yang diterangkan (the explained).  Dalam analisis regresi data harus berskala interval atau rasio. Hubungan dua variable bersifat dependensi. Untuk menggunakan analisis regresi diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Sumber : http://www.jonathansarwono.info/regresi/regresi.htm

 

Dipublikasi di File Kuliah | Meninggalkan komentar

TEKNIK SAMPLING (Hasan Mustafa /2000)

Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi.

Berbagai alasan yang masuk akal mengapa peneliti tidak melakukan sensus antara lain adalah:

(a) populasi demikian banyaknya sehingga dalam prakteknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti;

(b) keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus telah puas jika meneliti sebagian dari elemen penelitian;

(c) bahkan kadang, penelitian yang dilakukan terhadap sampel bisa lebih reliabel daripada terhadap populasi – misalnya, karena elemen sedemikian banyaknya maka akan memunculkan kelelahan fisik dan mental para pencacahnya sehingga banyak terjadi kekeliruan. (Uma Sekaran, 1992);

(d) demikian pula jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi menjadi tidak masuk akal, misalnya untuk meneliti kualitas jeruk dari satu pohon jeruk

Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi,  maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel .

Populasi atau universe adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang diteliti adalah laporan keuangan perusahaan “X”, maka populasinya adalah keseluruhan laporan keuangan perusahaan “X” tersebut, Jika yang diteliti adalah motivasi pegawai di departemen “A” maka populasinya adalah seluruh pegawai di departemen “A”. Jika yang diteliti adalah efektivitas gugus kendali mutu (GKM) organisasi “Y”, maka populasinya adalah seluruh GKM organisasi “Y”

Elemen/unsur adalah setiap satuan populasi. Kalau dalam populasi terdapat 30 laporan keuangan, maka setiap laporan keuangan tersebut adalah unsur atau elemen penelitian. Artinya dalam populasi tersebut terdapat 30 elemen penelitian. Jika populasinya adalah pabrik sepatu, dan jumlah pabrik sepatu 500, maka dalam populasi tersebut terdapat 500 elemen penelitian.

Syarat sampel yang baik

Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan.

Pertama : Akurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi.

Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis

Contoh systematic variance yang banyak ditulis dalam buku-buku metode penelitian adalah jajak-pendapat (polling) yang dilakukan oleh Literary Digest (sebuah majalah yang terbit di Amerika tahun 1920-an) pada tahun 1936. (Copper & Emory, 1995, Nan lin, 1976). Mulai tahun 1920, 1924, 1928, dan tahun 1932 majalah ini berhasil memprediksi siapa yang akan jadi presiden dari calon-calon presiden yang ada. Sampel diambil berdasarkan petunjuk dalam buku telepon dan dari daftar pemilik mobil. Namun pada tahun 1936 prediksinya salah. Berdasarkan jajak pendapat, di antara dua calon presiden (Alfred M. Landon dan Franklin D. Roosevelt), yang akan menang adalah Landon, namun meleset karena ternyata Roosevelt yang terpilih menjadi presiden Amerika.

Setelah diperiksa secara seksama, ternyata Literary Digest membuat kesalahan dalam menentukan sampel penelitiannya . Karena semua sampel yang diambil adalah mereka yang memiliki telepon dan mobil, akibatnya pemilih yang sebagian besar tidak memiliki telepon dan mobil (kelas rendah) tidak terwakili, padahal Rosevelt lebih banyak dipilih oleh masyarakat kelas rendah tersebut. Dari kejadian tersebut ada dua pelajaran yang diperoleh : (1), keakuratan prediktibilitas dari suatu sampel tidak selalu bisa dijamin dengan banyaknya jumlah sampel;

(2) agar sampel dapat memprediksi dengan baik populasi, sampel harus mempunyai selengkap mungkin karakteristik populasi (Nan Lin, 1976).

Kedua : Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.

Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (s), makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75.

Ukuran sampel

Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan alah kekayaan informasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika kaya akan informasi, maka sampelnya lebih bermanfaat.

Dikaitkan dengan besarnya sampel, selain tingkat kesalahan, ada lagi beberapa faktor lain yang perlu memperoleh pertimbangan yaitu,

(1) derajat keseragaman,

(2) rencana analisis,

(3) biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia . (Singarimbun dan Effendy, 1989).

Makin tidak seragam sifat atau karakter setiap elemen populasi, makin banyak sampel yang harus diambil.  Jika rencana analisisnya mendetail atau rinci maka jumlah sampelnya pun harus banyak. Misalnya di samping ingin mengetahui sikap konsumen terhadap kebijakan perusahaan, peneliti juga bermaksud mengetahui hubungan antara sikap dengan tingkat pendidikan. Agar tujuan ini dapat tercapai maka sampelnya harus terdiri atas berbagai jenjang pendidikan SD, SLTP. SMU, dan seterusnya.. Makin sedikit waktu, biaya , dan tenaga yang dimiliki peneliti, makin sedikit pula sampel yang bisa diperoleh. Perlu dipahami bahwa apapun alasannya, penelitian haruslah dapat dikelola dengan baik (manageable).

Misalnya, jumlah bank yang dijadikan populasi penelitian ada 400 buah. Pertanyaannya adalah, berapa bank yang harus diambil menjadi sampel agar hasilnya mewakili populasi?. 30?, 50? 100? 250?. Jawabnya tidak mudah. Ada yang mengatakan, jika ukuran populasinya di atas 1000, sampel sekitar 10 % sudah cukup, tetapi jika ukuran populasinya sekitar 100, sampelnya paling sedikit 30%, dan kalau ukuran populasinya 30, maka sampelnya harus 100%.

Ada pula yang menuliskan, untuk penelitian deskriptif, sampelnya 10% dari populasi, penelitian korelasional, paling sedikit 30 elemen populasi, penelitian perbandingan kausal, 30 elemen per kelompok, dan untuk penelitian eksperimen 15 elemen per kelompok (Gay dan Diehl, 1992).

Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992)  memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebagai berikut :

  1. Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen
  2. Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel (laki/perempuan, SD?SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum subsampel harus 30
  3. Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi multivariate) ukuran sampel harus beberapa kali lebih besar (10 kali) dari jumlah variable yang akan dianalisis.
  4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan pengendalian yang ketat, ukuran sampel bisa antara 10 s/d 20 elemen.

Krejcie dan Morgan (1970) dalam Uma Sekaran (1992) membuat daftar yang bisa dipakai untuk menentukan jumlah sampel sebagai berikut (Lihat Tabel)

Populasi (N) Sampel (n) Populasi (N) Sampel (n) Populasi (N) Sampel (n)
10 10 220 140 1200 291
15 14 230 144 1300 297
20 19 240 148 1400 302
25 24 250 152 1500 306
30 28 260 155 1600 310
35 32 270 159 1700 313
40 36 280 162 1800 317
45 40 290 165 1900 320
50 44 300 169 2000 322
55 48 320 175 2200 327
60 52 340 181 2400 331
65 56 360 186 2600 335
70 59 380 191 2800 338
75 63 400 196 3000 341
80 66 420 201 3500 346
85 70 440 205 4000 351
90 73 460 210 4500 354
95 76 480 214 5000 357
100 80 500 217 6000 361
110 86 550 226 7000 364
120 92 600 234 8000 367
130 97 650 242 9000 368
140 103 700 248 10000 370
150 108 750 254 15000 375
160 113 800 260 20000 377
170 118 850 265 30000 379
180 123 900 269 40000 380
190 127 950 274 50000 381
200 132 1000 278 75000 382
210 136 1100 285 1000000 384

Sebagai informasi lainnya, Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250. Bahkan jika sampelnya di atas 500, tidak direkomendasikan untuk menerapkan uji statistik. (Penjelasan tentang ini dapat dibaca di Bab 7 dan 8 buku Basic Statistics for Social Research, Second Edition)

Teknik-teknik pengambilan sampel

Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).

Dua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. Jika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Namun jika peneliti tidak mempunyai kemauan melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. Contohnya, jika yang diteliti populasinya adalah konsumen teh botol, kemungkinan besar peneliti tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah konsumennya, dan juga karakteristik konsumen. Karena dia tidak mengetahui ukuran pupulasi yang tepat, bisakah dia mengatakan bahwa 200 konsumen sebagai sampel dikatakan “representatif”?. Kemudian, bisakah peneliti  memilih sampel secara acak, jika tidak ada informasi yang cukup lengkap tentang diri konsumen?. Dalam situasi yang demikian, pengambilan sampel dengan cara acak tidak dimungkinkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali sampel diambil dengan cara tidak acak atau nonprobability sampling, namun dengan konsekuensi hasil penelitiannya tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Jika ternyata dari 200 konsumen teh botol tadi merasa kurang puas, maka peneliti tidak bisa mengatakan bahwa sebagian besar konsumen teh botol merasa kurang puas terhadap the botol.

Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling

Probability/Random Sampling.

Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan  kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut.  Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.

Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau  undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.

Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana

Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen  populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :

  1. Susun “sampling frame”
  2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
  3. Tentukan alat pemilihan sampel
  4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi

Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan

Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :

  1. Siapkan “sampling frame”
  2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki
  3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum
  4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.

Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka  untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer.

Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.

Cluster Sampling atau Sampel Gugus

Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :

  1. Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.
  2. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel
  3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak
  4. Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample

Systematic Sampling atau Sampel Sistematis

Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”.  Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada  ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :

  1. Susun sampling frame
  2. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil
  3. Tentukan K (kelas interval)
  4. Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.
  5. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.

10.  Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya

Area Sampling atau Sampel Wilayah

Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :

  1. Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.
  2. Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)
  3. Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.
  4. Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.
  5. Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.

Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak

Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.

Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.

Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini,  hasilnya ternyata kurang obyektif.

Purposive Sampling

Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.

Judgment Sampling

Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.

Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik. (Cooper dan Emory, 1992).

Quota Sampling

Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.

Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.

Snowball Sampling – Sampel Bola Salju

Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup)

sumber : home.unpar.ac.id/~hasan/SAMPLING.doc

Dipublikasi di File Kuliah | Meninggalkan komentar

Tembo (Sejarah) Suku Rejang Bagian 2

1. Terbentuknya Jang Pat Petulai

Lama kelamaan dari keempat pemimpin dari tempat tersebut, rakyat masing-masing terus berkembang, dan sejalan dengan itu timbul pulalah perbedaan-perbedaan pendapat dan masalah kependudukan dan otonomi daerah. Belajar dari perbedaan pendapat dan masalah-masalah yang timbul dalam rakyatnya, maka keempat pemimpin dari empat daerah bersepakat mengadakan rapat untuk menentukan batas kekuasaan masing-masing daerah, yang akhirnya disebutlah dengan nama Jang Pat Petulai, yang berasal dari kata-kata Rejang yaitu:

Jang          =”Suku Rejang (singkatan kata dari Merejang)

Pat            =”Empat”

Petu          =”Bang(Pintu)”

Lai            =”Lai (Besar)

2. Pemimpin dan kedudukan Pat Petulai

Keempat Petulai itu terdiri dari:

a)      Petulai I dipimpin oleh Bagelang Mato, berkuasa penuh di Renah Pelawi dan berkedudukan di Bendar Agung Lebong.

b)      Petulai II dipimpin Rio Bitang, berkuasa penuh dan berkedudukan di Atas Tebing/Pelabai.

c)      Petulai III dipimpin oleh Rio Jenggan, berkuasa penuh dan berkedudukan Suka Negeri Tapus.

d)     Petulai IV dipimpin oleh Rioa Sabu, berkuasa penuh dan berkedudukan di Kuto Rukam Tes.

Setelah keempat petulai ini ditetapkan sebagai pemimpin, maka mereka mendapatkan gelar atau sebutai Ajai, yang berarti orang yang dihormati atau orang yang dimuliakan.

3. Daerah yang Banyak Berpenduduk Rejang

Pada mulanya suku rejang ini berasal dari satu keturunan, namun setelah sekian lama, setelah mereka merejang ke daerah lain dan bergaul dengan suku lainya, maka banyak terdapat baik dalam bahasa/dialek/logat mengalami perubahan, namun pada umumnya artinya sama. Kita contohkan sebagai berikut;

  • Dau = Deu = Dew
  • Lalau = Lalew = Laleu
  • Moi = Mai
  • Telau = Teleu =Telew

Adapun daerah-daerah yang banyak berpenduduk suku Rejang adalah:

  • Yang mendiami daerah Lebong dan sekitarnya disebut dengan Jang Lebong.
  • Yang mendiami daerah Air Musi (Musai) dan sekitanya disebut Jang Musai.
  • Yang mendiami daerah Padang Ulak Tanding, Selangit, Batu Gene dan sekitarnya disebut Jang Lembak Sindang (Menyindang).
  • Yang Mendiami daerah Taba Penanjung dan sekitarnya disebut Jang Tengeak.
  • Yang Mendiami daerah Lais, Ketahun dan sekitarnya disebut Jang Pesisia

4. Bukti Keberadaan Suku Rejang

Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa suku Rejang ini bukan merupakan suku yang tidak mempunyai asal usulnya, karena keberadaan suku Rejang dapat dibuktikan dengan adanya bahasa dan tulisan tersendiri, bahasa Suku Rejang disebut Bahasa Jang, sedang tulisan Suku Rejang disebut dengan Ka. Ga, Nga, dan seterusnya. Suku Rejang juga memiliki adat tersendiri pula.

Dasar tulisan suku Rejang ini, dipergunakan oleh suku daerah lain, yang antara lain dipergunakan oleh Suku Komering, Lampung, dan Pasemah, namun cara penulisan Huruf-hurufnya ada sedikit perubahan yang disesuaikan dengan dialek/bahasa/logat daerah masing-masing.

5. Adat Istiadat

Adat istiadat disetiap daerah suku rejang memiliki adat istiadat masing-masing yang disesuaikan dengan cara hidup masyarakatnya, iklimdaerah, dan adat istiadat antar masing-masing daerah ini tidak menyimpang jauh dari adat istiadat yang telah diciptakan oleh nenek moyang mereka dahulu. Adat istiadat mereka ini tetap bersendikan kepata Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Selain dari pada adat yang sebenarnya adat ini dapat diubah, ditambah atau dikurangi yang dan yang disebut Adat Lembaga yang diciptakan di setiap daerah.

Adapun jenis adat istiadat/Adat yang diadatkan adalah sebagai berikut:

1. Adat Bujang Gadis

2. Adat dalam Perkawinan

3. Adat Mengebeu

5. Adat Sepejabet

6. Adat Pecuak Kulak

7. Adat Pecuak Ko’on

8. Adat Semendo Rajo-rajo

  • Semendo Teguak
  • Semendo Beuk Munggua
  • Semendo Langeu Ijo
  • beleket

9. Adat Pelayan

10. Adat Mas Kutai

11. Adat Pelakeak Papen

12.  Adat Kejai

13.  Jenis adat-adat lainya yang terdapat dalam adat kelembagaan (Afdeeling/Onderafdeeling-Bundel Adatrecht No. 11 tahun 1911)

6. Batas-Batas Daerah Suku Rejang

Dimasa berdirinya Jang Pat Petulai Renah Pelawi, ditetapkan batas daerah yang merupakan Batas wilayah kekuasan masing-masing daerah yang dipimpin oleh masing-masing ajai dengan batas sebagai berikut:

  • Jang Pat Petulai renah Pelawi Lebong, menguasai batas arah ke Timur sampai Ulu Musi.
  • Jang Tiga Banggo Ulu Musai, Menguasai batas arah selatan (Sindang Merdiko).
  • Jang Sebelas banggo Renah Pesisia, Menguasai batas arah ke Barat.
  • Jang Tujuh Banggo Renah Ketahun, menguasai batas arah Ke Utara.

7. Jang Tiang Pat Lemo Ngen Rajo

Setelah beberapa lama berdirinya Jang Pat Petulai Renah Pelawi Lebong, dimana jumlah penduduk semakin berkembang, dengan segala macam masalah yang timbul dalam masyarakat guna menengahi permasalahan-permasalahan ini, maka para pemimpin petulai-petulai bersepakat untuk mengangkat seorang pucuk pimpinan sebagai Rajo di Renah Pelawi untuk tempat berembuk meminta petuah dan sebagai pemersatu Pat Petulai.

Setelah timbul kesepakatan antara ke empat Ajai Jang Pat Petulai bersama dengan para cerdik pandai dan orang-orang terkemuka, maka diputuskan bahwa yang dapat menjadi Raja di Jang Pat Petulai ini haruslah seseorang yang berasal dari anak asal yang mempunyai kemampuan dan paham dalam pemerintahan. Dalam kesepakatan ini maka diangkatlah Sultan Saktai gelar Rajo Jongor-Rajo Megat-Rajo Mudo keturunan dari kerajaan Pagaruyung Minangkabau.

Setelah diangkat Sultan Saktai gelar Rajo Jongor-Rajo Megat-Rajo Mudo, sebagai raja atau pucuk pimpinan Jang Pat Petulai, maka ditetapkanlah nama Kerajaan ini menjadi Jang tiang Pat Lemo Ngen Rajo, dengan susunan sebagai berikut:

  • Sultan Saktai gelar Rajo Jongor-Rajo Megat-Rajo Mudo, duduk sebagai Rajo Jang tiang Pat Lemo Ngen Rajo dan berkedudukan di Pelabai dan kemudian pindah di Bendar Agung Renah Pelawi Lebong.
  • Ajai Begelang Mato, pemimpin Petulai I sebai Tiang I berkedudukan sebagai Staf kerajaan di Bendar Agung mendampingi Rajo.
  • Ajai Bitang, pemimpin Petulai II sebagai tiang II berkedudukan di Atas Tebing.
  • Ajai rio Jenggan, pemimpin Petulai III sebagai Tiang III berkedudukan di Suka Negeri Tapus.
  • Ajai Rio Sabu, pemimpin Petulai IV sebaga Tiang IV berkedudukan di Kuto Rukam Tes.

(Sumber :Buku Tembo Keluarga, disusun oleh Zainul Arifin Raja Chalifah. Putra ke 9 dari 11 besaudara dari Rakidan gelar Raja Chalifah dan Waliana. Koleksi Pribadi)

 

Dipublikasi di Tembo Sejarah Keluarga | Meninggalkan komentar

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN STATISTIK NON PARAMETRIK DAN STATISTIK PARAMETRIK

A. STATISTIK NON PARAMETRIK

Berdasarkan parameternya statistik dibagi menjadi dua yakni statistik Parametrik dan Non Parametrik, keduanya berbeda satu dengan yang lain dan memiliki kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Statistik Non Parametrik adalah bagian statistik yang parameter dari populasinya tidak mengikuti suatu distribusi tertentu atau memilki distribusi yang bebas persyaratan dan variannya tidak perlu homogen.

Statistik nonparametrik memiliki keungulan dan kekurangan, adapun keuntungan dari penggunaan prosedur-prosedur dari Statistik Non Parametrik adalah sebagai berikut.

  • Pernyataan kemungkinan yang diperoleh dari sebagian besar tes statistik non parametrik  adalah kemungkinan yang eksak. Dimana tes nonparametrik menggangap bahwa distribusi yang mendasarinya dalah kontinyu sama dengan anggapan yang dibuat tes-tes parametrik.
  • Terdapat tes-tes Statistik Non Parametrik untuk mengarap sampel-sampel yang terdiri dari observasi-observasi dari beberapa populasi yang berlainan, selain itu statistik non parametrik dapat digunakan pada sampel yang sifat distribusinya tidak diketahui secara pasti.
  • Tes- tes Statistik Non Parametrik dapat menggarap data yang berupa rangking dan data yang skor-skornya sepintas memilkik kekuatan rangking. Selain itu juga dapat menggarap data berupa klasifikasi semata yang diukur dalam skala nominal.
  • Tes-tes Statistik Non Parametrik lebih muda dipelajari dibandingkan dengan Parametrik, dan juga memiliki kemungkinan untuk digunakan secara salah juga kecil karena memerlukan asumsi dalam jumlah minimum.

Sedangkan kekurangan dari pengunaan prosedur-prosedur model Statistik Non Parametrik adalah :

  • Penggunaan Statistik Non Parametrik akan menjadi penghamburan data jika data memenuhi syarat model statistik parametrik,
  • Belum  ada satu pun dalam metode Statistik Non Parametrik untuk mengukur interaksi-interaksi dalam model analisis varian,
  • Penggunanaan Statistik Non Parametrik memerlukan banyak tenaga serta menjemukan.

B. STATISTIK PARAMETRIK

Statistik parametrik biasanya digunakan pada saat hipotesis yang diuji tidak melibatkan suatu parameter populasi, data telah diukur dengan skala yang lebih lemah dibandingkan dengan syarat statistik non parametrik, bila asumsi-asumsi untuk statistik parametrik tidak terpenuhi, dan hasil riset harus disajikan dan perhitungan harus dikerjakan secara manual. Statistik parametrik adalah bagian dari statistik yang parameter dari populasinya mengikuti suatu distribusi tertentu seperti distribusi normal dan memilki varian yang homogen.

Statistik parametrik memiliki keungulan dan kekurangan, adapun keuntungan dari penggunaan prosedur-prosedur dari statistik parametrik adalah sebagai berikut.

  • Syarat-syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat, Pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.
  • Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta MemilIki varian yang homogeny.

Sedangkan kekurangan dari pengunaan prosedur-prosedur model statistik parametrik adalah :

  • Populasi harus memiliki varian yang sama.
  • Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.
  • Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan.

Statistik Parametrik digunakan bila semua anggapan dari model statistiknya dipenuhi dan bila variabel-variabel yang dianalisis diukur setidaknya dalam skala interval.

Dipublikasi di File Kuliah | Meninggalkan komentar