Peta Jalan Sektoral Indonesia (Pertanian)

I. PERTANIAN

Karena berbagai sebab, harga pangan mengalami kenaikan yang sangat pesat pada beberapa tahun terakhir ini. Kelangkaan dan kenaikan harga pangan mengancam pemenuhan kebutuhan manusia yang paling dasar. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO),4 923 juta penduduk dunia mengalami kekurangan pangan pada 2007, meningkat lebih dari 80 juta sejak periode 1990‐1992.

Negara produsen pangan dapat memanfaatkan fenomena kenaikan harga bagi peningkatan produksi dan penghasilan petani. Untuk itu, hambatan atau kendala produksi perlu diminimalkan, akses produsen ke pasar perlu dibuka seluas‐luasnya. Kenaikan pendapatan yang dinikmati produsen akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja secara lebih luas terutama di pedesaan.

Sejak lama Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Tersedia tanah vulkanik subur dengan luasan besar, curah hujan cukup dan iklim yang sesuai bagi pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Hingga saat ini, pendapatan sebagian besar penduduk di pedesaan tergantung pada kegiatan pertanian. Memperhatikan kondisi saat ini, produktivitas tanaman pangan masih sangat mungkin ditingkatkan. Hasil produksi per hektar untuk berbagai komoditas tanaman pangan dan perkebunan akan naik apabila penggunaan benih unggul ditingkatkan, penerapan teknik budi daya dimajukan, pemupukan dioptimalkan dan managemen pengelolaan lebih baik.

1. Kendala Peningkatan Produksi Pangan

Hambatan utama peningkatan produksi pangan adalah kurangnya inovasi dan penyediaan infrastruktur pendukung. Selain itu, kebijakan makro (kebijakan perdagangan, fiskal dan moneter) pemerintah kurang memberi insentif bagi peningkatan produksi pangan. Pada sisi mikro, kebijakan bersifat sektoral, jangka pendek, kerap tidak konsisten dan tidak fokus.

Dominasi penggunaan teknik budidaya tradisional, penggunaan benih kualitas rendah (karena lebih murah), pemupukan dan pengelolaan tidak tepat, menyebabkan produktivitas rendah. Karena tidak ada insentif perusahaan kurang melakukan kegiatan R&D.

a) Lahan

Ketersediaan lahan untuk pertanian semakin berkurang. Kebutuhan lahan untuk pemukiman, kegiatan industri, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan saran publik lainnya, semakin bertambah. Kompetisi penggunaan lahan untuk berbagai kebutuhan semakin ketat. Konversi lahan pertanian untuk penggunaan lain sulit dihindari, terutama di wilayah berpenduduk padat seperti di Jawa.

Pembukaan areal pertanian baru (sawah dan lahan perkebunan) memerlukan biaya besar. Pembiyaan oleh publik (pemerintah) terkendala oleh keterbatasan anggaran. Sumber pendanaan komersial kurang berminat membiayai investasi yang bersifat jangka panjang dan berisiko tinggi. Pembukaan lahan pertanian baru sering kali menghadapi isu lingkungan. Pembebasan lahan sering berbenturan dengan hak ulayat atau adat. Proses perizinan mermerlukan waktu lama dan biaya besar.

Terjadi degradasi mutu lahan karena penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan. Sejak dikenalkan pupuk sintetis yang bersifat praktis dan berefek instan serta berkesan modern, penggunaan pupuk organik/pembenah tanah (kompos kotoran hewan, sisa pertanian maupun mikro organisma tertentu) semakin ditinggalkan. Pemakaian pupuk sintetis menyebabkan kesuburan tanah berkurang, tanah mengalami degradasi mutu secara fisik, kimia, maupun biologi.

Peruntukan lahan tidak konsisten; tidak singkron antara pusat dengan daerah. Kepala Daerah sering tidak memperhatikan aturan yang ada (Undang Undang No. 24/1992) dan biasanya sektor pertanian tidak menjadi prioritas.

Ketiadaan status kepemilikan lahan mengakibatkan petani tidak dapat mengagunkan lahan dalam mencari sumber pendanaan. Pada pertanian padi, skala usaha pada umumnya sangat kecil sehingga kurang ekonomis.

b) Jaringan Irigasi

Jaringan irigasi banyak yang rusak dan tidak berfungsi, sehingga kehandalan pasokan air irigasi cenderung turun, semakin banyak lahan yang kurang mendapatkan pasokan air. Perluasan jaringan irigasi lambat. Sejak krisis 1998 praktis tidak terjadi perluasan jaringan irigasi. Keterbatasan anggaran pemerintah menyebabkan pembangunan jaringan irigasi belum menjadi prioritas. Beberapa daerah mengalami defisit air, sulit membangun jaringan irigasi. Secara nasional masih terdapat surplus penyediaan air, tetapi di beberapa daerah telah mengalami defisit.

c) Jalan

Prasarana jalan kurang mendukung arus barang / pengangkutan hasil produksi. Beberapa pemerintah daerah mengenakan retribusi atas penggunaan jalan umum untuk angkutan komoditas pangan (CPO).

d) Pelabuhan

Kapasitas pelabuhan ekspor (terutama Dumai dan Belawan) tidak mampu lagi melayani volume ekspor yang terus meningkat. Pendangkalan pelabuhan menghambat aliran keluar‐masuk kapal ke pelabuhan dan menyebabkan antraian panjang. Pemasaran CPO dari Indonesia Timur terhambat oleh kurangnya fasilitas pelabuhan yang memadai.

e) Benih

Benih varitas unggul umumnya lebih mahal sehingga tidak dapat dijangkau oleh petani. Karena luasan lahan usaha pada umumnya sangat kecil, petani kurang memiliki insentif untuk menggunakan benih unggul. Kelangkaan sering terjadi terutama pada saat musim tanam. Dukungan pemerintah kepada petani untuk menyediakan benihnya sendiri sangat kurang. R&D.benih tidak intensif dan hanya dilakukan oleh kalangkaan terbatas untuk kepentingan sendiri. Sementara itu, proses birokrasi panjang untuk mendapatkan sertifikasi benih.

f) Pupuk

Harga pupuk bersubsidi lebih mahal dari yang ditetapkan sehingga tidak terjangkau oleh petani. Sering timbul kelangkaan pupuk, pupuk tersedia jenis dan jumlahnya tidak sesuai dengan kebutuhan. Sistem distribusi pupuk bersubsidi tidak berfungsi optimal, sering terjadi kebocoran (pupuk dijual bukan kepada petani yang berhak).

g) Modal kerja dan investasi

Walaupun secara ekonomis bersifat layak, usaha kecil di sektor pertanian sering kesulitan memenuhi persyaratan‐persyaratan teknis sehingga kehilangan kesempatan mendapatkan fasilitas kredit perbankan.

Petani kehilangan akses pembiayaan dari sektor perbankan karena tidak memiliki bukti legalitas usaha. Kredit program tidak dapat diserap secara optimal oleh petani.

Perbankan cenderung menghindari pembiayaan jangka panjang yang berisiko tinggi. Sektor pertanian biasanya bersifat jangka panjang. Investasi di sektor ini menghadapi risiko tinggi, misalnya kegagalan panen karena perubahan iklim, dan fluktuasi harga komoditas. Perbankan komersial umumnya kurang berminat menyalurkan dana ke sektor pertanian.

2. Roadmap 2009 2015

a) Target Produksi

Pembangunan pertanian ditargetkan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui percepatan pencapaian swasembada, peningkatkan tingkat kecukupan pangan dan daya saing komoditas pangan Indonesia di pasar domestik dan ekspor. Meningkatkan surplus produksi pangan untuk meningkatkan peran Indonesia sebagai pemasok pangan dunia (feed the world). Meningkatkan peran pertanian dalam menciptakan nilai tambah, penyerapan lapangan kerja dan penerimaan devisa.

b) Kondisi Pemungkin

Target pertumbuhan produksi pertanian akan tercapai jika sasaran perluasan areal panen dan / luas perkebunan dan peningkatan produktivitas pertanian dapat dicapai. Infrastruktur pendudukung pemasaran hasil produksi tersedia secara memadai. Berbagai pungutan dan biaya‐biaya yang menimbulkan biaya tinggi harus dihapuskan. Secara umum kondisi pemungkin berhubungan lahan, infrastruktur pendukung (jaringan irigasi, jalan dan pelabuhan), pasokan input (benih, pupuk, alsintan), dan pendanaan.

c) Kebutuhan lahan

Pertumbuhan sektor pertanian dicapai dengan perluasan lahan dan peningkatan produktifitas. Untuk tanaman semusim, sampai dengan 2014 target pertumbuhan dapat dicapai dengan meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektar. Pada sektor perkebunan dan perikanan budidaya diperlukan perluasan lahan perkebunan sebesar 1.4 juta ha.

(sumber: Roadmap Pembangunan Indonesia 2009-2014 / http://www.kadin-indonesia.com)

Tentang frisztado

manusia yang menikmati hidup
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi Pertanian (agribisnis). Tandai permalink.

2 Balasan ke Peta Jalan Sektoral Indonesia (Pertanian)

  1. rommy berkata:

    olek…carikan aku jurnal tentang keputusan nelayan ui…pake mtde analisis apo…..btw gmana cara buat block?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s