Tembo (Sejarah) Suku Rejang

Tembo (Sejarah) Suku Rejang

1. Asal Muasal Suku Rejang

Jang adalah kata-kata yang asli berasal dari kalimat merejang, untuk menyingkat kata-kata ini disebutlah jang, maka jadilah ia suku Jang. Arti kata MEREJANG adalah berjalan tidak melalui jalan.

2. Rejang Dari Serawak

Suku rejang ini berasal dari Berunai/Serawak di pulau Kalimantan. Mereka merejang darat, sungai dan laut hingga akhirnya sampailah salah satu kelompok mereka ke Pulau Sumatra, merejang ke daerah Palembang (selebar daun), ke daerah Bengkulu (Sungai Serut)/Jang Lebong/Jang Musai/jang Tengeak/Jang Lembak/Jang Lekiten/Jang Pesisia.

Sebagai contoh membuktikan rejang dari Serawak yakni coba saudara-saudara perhatikan peta Pulau Kalimantan, maka saudara akan menemukan sebuah sungai yang bernama Sunga Rejang, dan perhatikanlah pula ketika orang-orang serawak berbicara, bernyanyi beredoi, bergeritan dan lain-lain, maka akan banyak sekali saudara temukan kata-kata atau kalimat Rejang, namun hal ini bukan berarti Serawak berasal dari Rejang tapi Rejang yang berasal dari Serawak.

3. Daerah/Tanah Yang Mula-mula di Tempati Jang Dari Serawak

Dari kelompok-kelompok orang yang merejang dari Serawak, ada yang akhirnya sampai ke Daerah Rejang, yang masa dahulu disebut Renah Pelawi yang berasal dari kata “Renah”= dataran rendah dan “Pelawi”= nama pohon-pohonan atau dengan arti “dataran rendah yang banyak ditumbuhi pohon Pelawi. Renah Pelawi ini tanahnya cukup subur dan kaya akan hasil bumi berupa emas dan perak yang disebut “Lebong” atau Rejang Lebong.

4. Pemimpin Rejang Serawak

Orang-orang yang terpandang memimpin orang-orang yang merejang dari Serawak hingga sampai ke Renah Pelawi:

1) Begelang Mato

2) Rio Jenggan

3) Rio Bitang

4) Rio Sabu

Selain dari pemimpin ini, mereka didampingi oleh para Hulu Balang yaitu:

1) Tiak Jeningan

2) Tiak Jadam

3) Gajah Madau

4) Singoparai

Setelah beberapa lama mereka menetap di Renah Pelawi, dan penduduknya semakin berkembang hingga Renah Pelawi semakin padat penduduknya, kemudian dikarenakan kebiasaan leluhur, sebagian dari mereka mulai merejang kembali, guna mencari daerah atau tanah yang subur untuk menjadi lahan pertanian bagi rakyatnya. Adapun kelompok orang-orang yang merejang ini antara lain dipimpin oleh:

a)      Rio Bitang beserta pengiringnya membuka lahan di Atas Tebing dan sekitarnya, sambil memelihara sarang burung laying-layang di Sekandau.

b)      Rio Jenggan beserta pengiringnya membuka lahan di Suka Negeri Tapus dan sekitarnya sambil membuka tambang emas di Tebo Lekenei.

c)      Rio Sabu beserta penggiringnya membuka lahan di Kuto Rukam Tes, sambil menjaga tambang emas Simpang (Lebong Simpang.)

d)     Bagelang Mato beserta pengiringnya membuka lahan di Pelabai/Bandar Agung Lebong, sambil membuka tambang emas di Renah Pelawi Lebong.

(Sumber :Buku Tembo Keluarga, disusun oleh Zainul Arifin Raja Chalifah. Putra ke 9 dari 11 besaudara dari Rakidan gelar Raja Chalifah dan Waliana. Koleksi Pribadi)

Tentang frisztado

manusia yang menikmati hidup
Pos ini dipublikasikan di Tembo Sejarah Keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s